Pages

Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Juni 2010

Tujuan Komunikasi

Dalam berhubungan dengan orang lain atau dengan khalayak maka kita mempunyai suatu tujuan mengapa kita berkomunikasi dengan mereka.

Beberapa tujuan komunikasi pada umumnya adalah:
a. Supaya kita sampaikan dapat dimengerti, maka komunikator harus menjelaskan kepada komunikan dengan tuntas dan jelas apa yang dimaksud.
b. Memahami orang lain dengan memahami aspirasi tentang apa yang di inginkan.
c. Supaya gagasan kita dapat diterima orang lain harus diupayakan mclalui pendekatan persuasif bukan pemaksaan kehendak.
d. Menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu kegiatan dengan mcmperlimbangkan cara terbaik bagaimana untuk mengerakkan orang lain (H.A.W Widjaja, 1991:10).


Anda mau file tersebut diatas dalam bentuk MS-WORD, silahkan klik download
Selengkapnya...

Fungsi Komunikasi

Komunikan tidak hanya diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan tetapi kegiatan individu dan kelompok mengenai tukar-menukar data, fakta dan ide. Maka fungsi komunikasi yang dinyatakan oleh H.A.W. Widjaja (1991:9) dalam bukunya Komunikasi (Komunikasi dan Hubungan Masyarakat adalah:



a. Informasi; Pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan beraksi secara jelas dalam mengambil keputusan yang tepat.
b. Sosialisasi; Pcnyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang menyadari akan fungsi sosialnya dan dapat aktif di masyarakat.
c. Motivasi; Menentukan tujuan, mendorong orang untuk pilihan dan keinginannya, mendorong individu dalam rangka mencapai tujuan bcrsama.
d. Perdebatan dan diskusi; Menyediakan dan sating menukar fakta yang diperlukan untuk menentukan persetujuan dan menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai suatu masalah.
e. Pendidikan; Penyerapan ilmu pengetahuan untuk mendorong perkembangan intelektual, pembentuk watak dan pendidikan ketrampilan yang diperlukan.
f. Memajukan kebudayaan; Penyebaran kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan warisan masa lalu.
g. Hiburan; Penyebarluasan sinyal, simbol, suara dan image dari drama, tari, kesenian, musik, olah raga, permainan untuk rekreasi dan kesenangan.
h. Integrasi; Memberikan kesempatan pada individu untuk saling mengenal dan mengerti dan menghargai kondisi, pandangan dan keiinginan orang lain.

Anda mau file tersebut diatas dalam bentuk MS WORD, silahkan klik download
Selengkapnya...

Senin, 28 Juni 2010

Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris disebut dengan communication yang berasal dari kata communicatio atau dari kata commlsnis yang berarti sama atau sama maknanya atau pengertian bersama" dengan maksud untuk mengubah pikiran, sikap, perilaku, mcncrima dan melaksanakan apa yang diinginkan oleh komunikator. Fungsi komunikasi pun tidak hanya informatif namon fungsi lain yang tidak kalah penting adalah pcrsuasif dimana komunikator benisaha untuk m:mhujuk, merayu, mengajak dan meyakinkan orang lain untuk mengikuti dan mengikuti dan melakukan apa yang diinginkan oleh komunikator. Seperti halnya definisi yang dilakukan oleh Hovland bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (communicatio is the process to modify the behaviour of other individuals (Onong, 1990:10)).


Definisi lain dinyatakan oleh Laswell yang mendefinisikan komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Laswell dalam buku Onong Uchjana Effendy (1993:14) yang berjudul Human Relations dan Public Relations menyatakan bahwa komunikasi terdiri atas lima unsur yaitu:
a. Komunikator (communicator, 'source, sender) adalah seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan pikiran atau perasaannya kepada orang lain.
b. Pecan (message) adalah lambang bermakna (meaningful symbols), yakni lambang yang membawakan pikiran atau perasaan komunikator.
c. Media (channel, medi(i) adalah sarana untuk menyalurkan pesanpcsan yang disampaikan oleh konuulikator kepada komunikan.
d. Komunikan (comrnunicun, comnurnicutee, receiver, recipient) adalah seseorang atau se jumlah orang yang menjadi sasarail komunikator ketika ia menyampaikan pesannya.
e. Efek (effect, impact, influence) adalah tanggapan, respon atau reaksi dari komunikan ketika ia atau mereka menerima pesan dari komunikator.

Pada hakekatnya komunikasi merupakan salah satu cara komunikator untuk menyampaikan dan memberitahukan pikiran dan perasaan kepada komunikan. Yang dibutuhkan dalam proses komunikasi adalah persamaan pemahaman atas suatu gagasan diantara kedua belah pihak yang tengah berkomunikasi meskipun pada akhimya harapan komunikator adalah bahwa orang yang diajak berkomunikasi mengikuti apa yang diinginkan oleh komunikator.
James A.F. Stoner dalam bukunya yang berjudul Manajemen mcnyebutkan bahwa komunikasi adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. Pendapat bcrbeda diungkapkan oleh John R. Schemerhorn dalam bukunya bcrjudul Managing Organizational Behaviour yang menyatakan bahwa komunikasi itu dapat diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mcngirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mcrcka (I LA.W. Widjaja,1991:R).

Anda mau file tersebut diatas dalam bentuk MS-WORD, klik download
Selengkapnya...

Analisis Strategi Meningkatkan Kualitas / Mutu Pendidikan

Sebetulnya selama perjalanan pendidikan itu juga berkaitan dengan peningka-tan kualitas/mutu, tapi ada juga hukum alam yang tidak dapat ditinggalkan perkem-bangan kuantitatif akan dibarengi dengan kemunduran kualitas atau antara kuantitatif dan kualitatif itu tidak dapat berjalan seiring ( Prof. Dr. Malik Fajar, M. Sc) jika sela-ma 30 tahun lalu tidak mengejar pada perkembangan kuantitatif dan era reformasi akan mengangkat kualitas dengan tetap menjaga kuantitasnya karena pada perkem-bangan penduduk selalu meningkat terus tanpa disertai jumlah lembaga yang dapat menampungnya, maka akan banyak anak didik yang tidak dapat melanjutkan belajar-nya.

Sekarang baru terasa kalau kita meningkatkan kuantitasnya terasa sangat gampang dan mudah tetapi kalau kualitas yang ditingkatkan akan terasa sangat sulit sekali dan ibaratnya cukup menantang, sedangkan kualitas itu sendiri bagaimana standarnya ? Tentu perlu ada standar kompetensi baik nasional maupun internasional.
Kedua dulu pada zaman Orde Baru, siswa dituntut untuk dapat membaca, menulis dan berhitung. Tetapi sekarang siswa harus dituntut bisa membaca Bahasa Indonesia dan bahasa asing, matematuka IPA/IPS, jadi dituntut untuk maju karena kita tidak hidup di negara yang tertutup, namun harus selalu dapat mengikuti per-kembangan dunia yang terus bergerak maju ke depan, dimana perubahan dan per-kembangan informasi sangat pesat. Dengan adanya ilmu pengetahuan dapat masuk lewat internet, sehingga memberi pengaruh besar pada dunia pendidikan.

Di satu sisi mengalami kemajuan , namun di sisi lain juga merasa sedih karena masih adanya kesenjangan antara daerah yang mudah menjangkau dan daerah yang minim informasi, padahal peningkatan pendidikan pada hakekatnya menyang-kut kemampuan kita dalam mengelola informasi, maka siapa yang cepat menangkap informasi, maka dialah yang maju.

Manajemen strategi yang berwawasan ke depan adalah suatu pelaksanaan prinsip-prinsip manajemen dalam bisnis yang dimulai dari implementasi strategi berdasarkan praktek-praktek bisnis yang dilakukan oleh korporasi yang berwawasan ke depan. Biasanya korporasi yang telah mampu membuktikan keberhasilannya dalam praktek manajemen dijadikan profil yang dapat ditiru oleh beberapa pembuat keputusan bisnis dari dasar-dasar pengambilan keputusan strategi dianalisa dan di pahami untuk dapat dijadikan sebagai titik tolak pembuatan strategi bisnis yang pada akhirnya nanti akan diperoleh strategi yang bernilai tinggi.

Terdapat beberapa pandangan umum tentang mitos yang salah dan bertentang an dengan kenyataan. Mitos itu antara lain menyatakan bahwa untuk memiliki suatu keberhasilan besar harus memerlukan ide besar. Mitos ini dalam kenyataannya tidak demikian. Kadang-kadang tidak benar, karena perkembangan usaha tidak harus de-ngan ide-ide yang besar pula. Karena membangun usaha dengan ide besar adalah ide yang buruk, sebab apabila di tengah perjalanan dalam kenyataan tidak sama dengan ide-ide yang besar tadi, maka akan menjadi penghambat perkembangan usaha ter-sebut. Kebanyakan usaha muncul ke permukaan tanpa ide yang besar.

Disamping mitos ide besar terdapat mitos lain adalah di dalam membangun suatu usaha yang besar diperlukan seorang yang karismatik dan berwawasan bersar. Pendapat ini juga keliru karena pemimpin yang karismatik tidak diperlukan, bahkan dianggap mengganggu stabilitas usaha dalam jangka panjang. Kebanyakan pemimpin yang mempunyai misi ke depan adalah orang-orang sederhana dan pemalu yang segan muncul di depan khalayak ramai.

Kepemimpinan bisnis yang benar dan baik berasal dari dalam lembaga / usaha sehingga kemampuan dirinya sudah teruji dalam praktek dak tidak usah men-dapat dukungan dari pihak lain lewat publikasi. Pemimpin besar yang berwawasan ke depan adalah seorang pembuat jam dan yang dapat membaca waktu dan bukan seorang pencatat waktu dan tidak dapat membuat jam. Sebagai pembuat jam adalah penentu arah bisnis dalam jangka panjang. Orang yang demikian ini adalah orang yang sangat berharga dan penentu arah suatu usaha dan biasanya tidak mau tampil di depan malah sebaliknya dia berada di belakang layar dan sulit untuk didekaki takut konsep-konsepnya di ketahui orang lain.

Seorang ahli bisnis selalu berangan-angan mampu ke depan dan selalu mene-mukan hal-hal yang baru dimana orang lain sulit untuk memprediksi arah bisnisnya, arah yang ditempuh selalu bersumber dari hasil dia berfikir yang kritis dan tajam sehingga mendekati kebenaran langkah dan tidak tergoyahkan oleh keadaan-keadaan di masyarakat. Pebisnis tidak jarang selalu membuat gebrakan-gebrakan yang mem-buat opini masyarakat menjadi tertuju padanya.

Partez (1992) menyebutkan bidang-bidang kekuatan dan kelemahan pesaing meliputi kekuatan atau kelemahan dalam bidang-bidang produk, promosi, litbang dan rekayasa biaya keseluruhan, organisasi menejerial umum dan lain-lain. Kemampuan suatu perusahaan sangat bergantung pada penilaian yang realistik terhadap kemam-puan pesaing melakukan langkah-langkah dalam persaingan bisnis.

Perusahaan selalu dihadapkan pada suatu persaingan bisnis. Persaingan adalah sangat wajar di dalam era yang global ini. Mau tidak mau selalu di bawa pada arus persaingan tentu akan keluar menjadi pemimpin di eranya. Di dalam bersaing yang perlu dikedepankan adalah bagaimana menciptakan trik-trik untuk menarik para pelanggan agar supaya pelanggan menganggap produk yang dikeluarkan sangat me-narik pada pemerhati hasil produk tersebut tidak jarang karena keahliannya dalam menggaet pelanggan, menganggap kalau tidak itu tidak baik, sehingga kita dapat menciptakan opini masyarakat bahwa produk yang dihasilkan oleh (A) sangat sempurna padahal tidak demikian. Sebenarnya keahlian dalam menggaet pelanggan sangat dibutuhkan dalam usaha, baik itu suatu perusahaan besar maupun usaha yang kecil sekalipun adakalanya dimulai dari yang sangat kecil, namun dikelola dengan baik dan disertai kecakapan dalam pengelolaannya sehingga akan menjadi besar pula dan selalu memperhatikan bagaimana cara meraih pasar.

Dalam pasar yang semakin kompetitif dewasa ini, kedekatan dengan pela-nggan merupakan suatu faktor yang niscaya akan meningkatkan kepemimpinan pasar suatu produk adalah faktor yang harus diperhatikan dimana kedekatan dengan pe-langgan adalah faktor paling ampuh dalam menunjang / membantu pengusaha dalam mencapai kepemimpinan pasarnya (pemasaran Strategi oleh Bambang Tricahyono).

Dewasa ini persaingan sudah beralih dari perebutan pangsa pasar (market share) ke perebutan pangsa peluang (opportunity share). Dalam kaitan ini Gary Ha-mel dan CK Prahalad (1993) mengidentifikasikan adanya dua aspek yang menyebab-kan mengapa suatu organisasi gagal dalam bersaing. Pertama, banyak organisasi yang gagal untuk keluar dari kungkungan masa lampau, yakni kemampuan untuk meninggalkan paradigma lama dalam menyiasati strategi bisnis saat ini. Kedua, banyak organisasi yang gagal pula untuk menerawang masa depan (invent future) yakni menciptakan masa depan dengan proses dengan proses pembelajaran kolektif (collective learning) yang mampu mengintegrasikan kompetisi inti yang bersifat sangat unik atau destruktif, baik intra maupun antar perusahaan yang terakhir ini sa-ngat berguna untuk membuat opportunity share. Pertimbangan situasi strategi men-cakup konsumerisme dan pemeliharaan lingkungan, menjaga langganan, persaingan dan strategi kompetitif serta pengaruh pemerintah dan hukum ( Pemasaran 2000, Irawan, Faried Wijaya, BPFE, Yogya).
Menurut donald G. Krause, situasi bersaing yang berbeda mungkin saja mem-butuhkan taktik yang berbeda pula untuk mencapai keberhasilan tetapi sejauh mung-kin jagalah kekuatan selama masih dalam keadaan perselisihan. Kerjakan segala yang mudah dengan cara yang dapat dimengerti, laksanakan kegiatan mulai dari posisi-posisi yang dapat dipertahankan.

Untuk mengembangkan kemandirian dan daya saing pasar, menyumbangkan kompetisi profesional dengan cara : knowledge, skill, attitude. Ketiganya merupakan faktor yang paling krusial ialah kesiapan, sumberdaya manusia. Itu sebabnya mereka yang berkiprah di dunia usaha harus siap menerima membuat perubahan karena ekonomi dan pasar terus berubah dan berkembang secara dinamis. Dengan kata lain harus siap mengadaptasi, mengantisipasi sekaligus membuat perubahan yang di-maksud mereka di sini tidak terbatas pada pembuat kebijakan lagi juga para pekerja, mulai lapisan pucuk pimpinan sampai bawahan, bahkan melihat kecenderungan, makin menariknya dunia usaha sebagai pilihan profesi, tidaklah salah menempatkan angkatan kerja sebagai calon pelaku usaha, termasuk mereka yang kini masih berada di bangku sekolah.
Pada suasana lingkungan yang selalu berubah dalam strategi bisnis terbaik adalah menyesuaikan dengan 4 (empat) bentuk arena persaingan.

Menurut D. Avein dalam bukunya Hyper Competition, keempat arena persaingan itu digambarkan se-bagai berikut :
1. Biaya dan kualitas, artinya dengan biaya yang relatif rendah akan menghasilkan kualitas yang maksimal
2. Waktu dan kemampuan bagi lembaga pendidikan berupa ketepatan keseluruhan lulus tepat 3 (tiga) tahun dengan kemampuan yang dapat diandalkan.
3. Kekuatan pertahanan, artinya mampu bertahan dalam jangka panjang yang selalu mengarah pada perkembangan.
4. Kelebihan keunggulan yang menyangkut pengaruh keuangan untuk melawan pesaing melalui kelebihan alat praktek, laboratorium dan alat fasilitas lain.
Untuk memenuhi arena persaingan agar tercapai tujuan bisnis yang dinamis dan berkembang, D’Avein memperkenalkan strategi baru.

Strategi baru tersebut mencakup 7 (tujuh) faktor bersaing :
1. Kepuasan pihak yang terlibat antara lain guru, karyawan, pengolah dan yayasan termasuk disini para siswa itu sendiri.
2. Jangkauan ke depan dengan menciptakan peluang melakukan gebrakan bisnis yang ditekuni.
3. Kecepatan dengan meningkatkan kemampuan melaksanakan gebrakan yang ampuh dan tepat.
4. Kejutan, dengan melakukan peningkatan kemampuan melalui gebrakan dan pembaruan.
5. Menggeser aturan main, dengan melakukan berbagai usaha yang dinamis.
6. Membuat sinyal dengan mempengaruhi dinamika persaingan masa depan.
7. Melaksanakan kesinambungan dengan melakukan antisipasi interaksi strategis (disesuaikan dengan dunia pendidikan).

Untuk memenangkan salah satu arena persaingan bisnis, misalnya arena per-saingan waktu dan kemampuan dapat dilaksanakan dapat dilaksanakan melalui pe-laksanaan beberapa faktor strategi dinamis, yaitu kecepatan dan kejutan dengan meningkatkan kemampuan melaksanakan gebrakan ampuh serta melaksanakan kesi-nambungan dengan melakukan antisipasi interaksi strategis.

Persaingan pada bisnis pendidikan akan nampak jalan dan sangat perlu diper-hatikan apabila sebuah lembaga pendidikan berada di wilayah dimana terdapat banyak lembaga pendidikan. Sebagai contoh di satu wilayah terdapat lembaga pendi-dikan tingkat SMU dan jumlahnya 8 buah, 4 diantaranya sekolah umum dan 2 kejuruan, 2 lagi madrasah ‘aliyah. Walaupun yang sejenis cuma 2 buah sekolahan, namun hal ini perlu menganalisa strategi bersaing dalam bereubut peluang pasar. Pasar telah terbuka lebar, hanya bagaimana kita memperebutkannya, tentu saja melalu keunggul-an bersaing.
Kalau keunggulan bersaing itu tetap dipertahankan bahkan mungkin diting-katkan, maka tidak tertutup kemungkinan lembaga pendidikan itu akan mampu men-jadi pemimpin pasar yang selalu mempertahankan 3 komponen pokok, yaitu : 1) Keampuhan operasional, 2) Kepemimpinan produk, 3) Kedekatan dengan pelanggan.

Mau file tersebut diatas dalam bentuk MS-WORD, klik download

Selengkapnya...

Minggu, 27 Juni 2010

Metode Ceramah

Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan sacara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.


Berdasarkan ungkapan tersebut, maka efektivitas metode ceramah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V pada mata pelajaran fiqih di MI/MWB-PUI at-Tahdiriyyah Cibaraja dan MI al Husaeniyah Salakopi Kabupaten Sukabumi akan memperoleh hasil lebih baik, bila didasari oleh fungsi kejiwaan yang menjadi syarat bagi perbaikan tingkah laku, dan berarti pula menghilangkan tingkah laku, dan kecakapan yang mempersempit pergaulan belajar.

Wasty soetmanto (1984: 99), bahwa “belajar merupakan suatau proses, bukan hasil. Oleh karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan sebagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan”. Jadi belajar adalah proses aktif, belajar merupaka proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu.

Belajar adalah suatu proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar merupakan proses melihat, mengamati, memahami sesuatu yang dipelajari. Apabila berbicara tentang cara belajar, maka dibicarakan cara mengubah tingkah laku atau individu melalui berbagai pengalaman.
Nana sudjana (1988: 45) membagi belajar kepada tiga sudut pandang, yakni:
(a) melihat belajar sebagai suatu proses
(b) melihat belajar sebagai hasil
(c) melihat belajar sebagai fungsi.

Menurut W.S. Wingkel (1999:61), terdapat tiga jenis belajar, sebagaimana dijelaskan A. De Block, sistematika bentuk belajar adalah sebagai berikut:
(a) Bentuk-bentuk belajar menurut fungsi psikis:
1) Bentuk dinamik/konatif
2) Bentuk afektif.
3) Bentuk kognitif: mengingat, berfikir
4) Belajar senso-motorik: mengamati, bergerak, berkerampilan.


(b) Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari:
1) Belajar teoritis
2) Belajar teknis
3) Belajar sosial atau belajar bermasyarakat
4) Belajar estetis

(c) Bentuk-bentuk belajar yang tidak sebegitu didasari oleh belajar insidental, belajar dengan mencoba-coba dan belajar tersembunyi.

Efektivitas metode ceramah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V pada mata pelajaran fiqih mengandung beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.


Namun demikian, metode ceramah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa juga banyak kelebihannya adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan

Mau file tersebut diatas dalam Versi MS-WORD..silahkan klik download
Selengkapnya...

Rabu, 23 Juni 2010

Kompetensi Guru

Guru merupakan suatu profesi yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Guru sebagai jabatan fungsional harus profesional. Pengertian profesional erat kaitannya dengan keahlian dan keterampilan yang telah dipersiapkan melalui proses pendidikan dan pelatihan khusus dalam bidangnya. Dengan demikian guru selalu dituntut untuk terus mengembangkan profesinya.Guru yang profesional disyaratkan untuk memiliki kompetensi tertentu, selain kompetensi menyampaikan pembelajaran di depan kelas.


Untuk memahami pengertian kompetensi guru, kita terlebih dahulu mengetahui tentang pengertian kompetensi itu sendiri. Menurut W.Robert Houston, yang dikutip langsung oleh NY,Rostiyah N.K.(1989:4) mengemukakan pengertian kompetensi sebagai “Competence” Ordinarly is defined as “adequacy for task” or as of require knowledge, skill and abilities”. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa kompetensi sebagai suatu tugas yang memadai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang.

Cooper (dalam Nana Sudjana;1989) mengemukan empat kompetensi Guru, yaitu :
a. Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia.
b. Mempunyai sikap yang tepat tentang diri-sendiri, sekolah, teman sejawat, dan bidang studi yang dibinanya.
c. Mempunyai pengetahuan,menguasai bidang yang dibinanya.
d. Mempunyai keterampilan teknik mengajar.

Broke and Stone yang dikutip oleh Uzer Usman(2001:14) “Kompetensi merupakan gambaran hakekat kualitatif dan perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak sangat berarti. Sementara itu Charles E. Johnson Cs dalam Drs.A.Tabrani Rusyan dan Drs.H.ES Hamijaya(1992:11) mengemukakan bahwa “Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.

Memperhatikan berbagai pendapat pakar pendidikan di atas dapat dirumuskan pengertian kompetensi guru adalah pemilikan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dalam proses pembelajaran dan mempunyai perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Kompetensi diperlukan untuk mengembangkan kualitas dan aktivitas tenaga kependidikan.Selain itu,kompetensi guru yang berfungsi sebagai pembina program terpadu dan menyeluruh agar memantapkan fungsinya sebagai pendidik dan pengajar. Guru sebagai ujung tombak terdepan lebih mengetahui kondisi objektif terhadap pelaksanaan proses belajar-mengajar di sekolah.

Selengkapnya...

Selasa, 22 Juni 2010

Pengukuran Efektivitas Kinerja Organisasi

Penilaian mengenai organisasi dan fakor-faktor yang mempengaurhinya pada masa depan dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
1. Organisasi-organisasi akan beroperasi dalam lingkungan yang bergolak yang membutuhkan perubahan-perubahan penyesuaian yang terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tidak statis.


2. Organisasi-organisasi perlu menyesuaikan diri dengan berbagai nilai kultural dalam lingkungan sosial. Contoh organisasi yang berada di suatu kampus, maka organisasi itu harus menyesuaikan dengan budaya kampus tersebut.
3. Organisasi-organisasi akan terus meluaskan batas-batas daerah wewenangnya. Keberadannya akan bertambah besar dan kompleks.
4. Organisasi-organisasi akan terus mendefferensiasikan kegian-kegiatan mereka sehingga menambah masalah integrasi dan koordinasi, karena kompetitif dan perkembangan iptek yang cepat.
5. Perhatian terhadap mutu kehidupan kerja akan meningkatkan. Karena pesaing semakin besar, maka kualitas harus ditingkatkan.
6. Penekanan lebih besar pada saran dan bujukan daripada pemaksanaan yang didasarkan pada kekuasaan sebagai alat koordinasi kegiatan dan fungsi organisasi.
7. Para peserta di semua tingkat organisasi akan lebih berpengaruh.
8. Nilai dan gaya hidup orang dan kelompok dalam organisasi akan terdapat lebih banyak ragamnya. Karena peluang antara pria dan wanita sama, dari sisi etnis juga sama.
9. Penilaian terhadap prestasi organisasi akan lebih sulit. Karena organisasi selalu berkembang, maka standar yang baku sudah tidak memadai lagi.
10. Proses perubahan berencana dengan keterlibatan para peserta yang meluas akan dilembagakan/ diformalkan.
11. Gerakan menjauh selalu tercipta dari organisasi stabil mekanistik menuju ke arah sistem yang adaptif yang tanggap terhadap perubahan. Perubahan dinamis dalam
sifat organisasi akan selalu meningkalkan jurang/ gap antara pengetahuan dan penerapannya, namun demikian kemajuan terus ada.



Selengkapnya...

Selasa, 18 November 2008

Cara Cepat Menyusun Skripsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah
Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar ?lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi?. Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar.


Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.


Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian.


Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya. Apa itu Skripsi Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3). Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama.


Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum ?berhak? untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal. Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).


Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah ?belajar meneliti?. Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat. Miskonsepsi tentang Skripsi Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya ?ditujukan? untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik.


Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata. Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku.


Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory. Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.


Hal-hal yang Perlu Dilakukan


Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun. Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi. Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai. Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest. Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang ?bertugas? membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, ?mengejar? untuk bimbingan, dan seterusnya. Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat ?ketidakpastian? tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu. Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa ?pihak ketiga? yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda. Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan? Tahap-tahap Persiapan Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan ?ditarik? masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing. Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu.


Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal. Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi.


Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas. Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah ?hafal di luar kepala? sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya. Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980. Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara ?baku?. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.


Kiat Memilih Dosen Pembimbing


Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang ?benar-benar membimbing? skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan ?melepas? dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi. Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih ?enak? kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda. Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat? Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:


* Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.

* Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat. Tapi, keuntungannya:

* Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.

* Anda akan ?tertolong? saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk ?membantai? Anda.


* Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A. Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak ?jaim? dan ?sok? kepada mahasiswanya. Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar ?sendirian? ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan ?dihajar? cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda. Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.


Format Skripsi yang Benar Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut. Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini. Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang ?gagal? menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung. Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya. Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan. Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini. Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).


Beberapa Kesalahan Pemula


Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami. Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis ?sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan? sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1. Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses) Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan. Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan. Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan ?kemalasan riset?. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu. Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor.


Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor. Menghadapi Ujian Skripsi Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi. Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam. Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis. Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah ?konfirmasi? atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well. Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah ?lubang jebakan? agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji. Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu. Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A. Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.


Pasca Ujian Skripsi


Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal

bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini

inginkan. Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya? Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini. Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan

dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan. Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?




Selengkapnya...

Rabu, 12 November 2008

Penelitian Tindakan Kelas

Apakah Penelitian Tikdakan Kelas (PTK) itu ?



Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.


Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kaloboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kaloboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kaloboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.



PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut :

Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.

Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan “sekali tembak” selesai pelaksanaannya.

Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.

Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.

Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.

Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.

Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.

Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.

Tujuan PTK sebagai berikut :

Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.

Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.

Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.

Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.

Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.

Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.

Manfaat PTK

Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.

Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.

Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.

Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.

Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.

Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.

Prosedur Pelaksanaan PTK



1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.



2. Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.



3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.



4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Inilah laporan PTK.

Implementasi PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan.
Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan, bentuk dan skenario tindakan, pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan, serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian.

A. Diagnosis dan Penetapan Masalah
Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen.
Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya.
Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan dosen harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu, misalnya 2 minggu atau satu bulan, rumusan masalahnya, atau hipotesis tindakannya, atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. Dalam kegiatan di kelas, guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas, proses belajar-mengajar, pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar, maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional.
PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar, 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar, 2) mengembangkan kurikulum, 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan 4) memperbaiki metode evaluasi. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga, 2) sumber-sumber lingkungan, dan 3) peralatan tertentu. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa, guru, dan orang tua, 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar, 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Jadi, masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”, dapat “ditindaki”, dan “ditindaklanjuti”. Contoh permasalahan ada di Lampiran 1.
Dari sekian banyak kemungkinan masalah, guru bersama dosen perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan bersama itu.
Penetapan masalah hendaknya dilakukan bersama oleh dosen dan guru setelah menganalisis seluruh pilihan masalah, minat, dan keinginan guru serta dosen (bersama) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya. Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan bersama antara guru dan dosen dapat berupa rumusan sebagai berikut: Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan mampu belajar?
Masalah-masalah lain yang mungkin dihadapi guru dapat berupa:
• Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar? yang “ideal” itu dapat meningkatkan antusiasme siswa sehingga mereka sepertinya “tidak sabar” menunggu-nunggu datangnya jam pelajaran yang dibina oleh guru tersebut;
• Bagaimana mengajak siswa agar di kelas mereka benar-benar aktif belajar (aktif secara mental maupun fisik, aktif berpikir)?
• Bagaimana menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan kehidupan siswa sehari-hari agar mereka dapat menggunakan pengetahuan dan pemahamannya mengenai materi itu dalam kehidupan sehari-hari dan tertarik untuk mempelajarinya karena mengetahui manfaatnya?
• Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk membelajarkan materi?
• Bagaimana melaksanakan pembelajaran kooperatif?
Striger (2004) memberikan arahan untuk memfokuskan penelitian dengan jelas setelah melakukan refleksi mengenai apa yang terjadi yang memunculkan masalah dan apa isu serta peristiwa yang terkait dengan masalah. Isu atau masalah itu harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang dapat diteliti dan diidentifikasi tujuan meneliti masalah tersebut.
Isu atau topik yang ingin diteliti: Definisikan apa isu atau peristiwa yang menimbulkan permasalahan.
Masalah penelitian: Nyatakan isu sebagai suatu masalah.
Rumusan masalah: Tuliskan masalah dalam bentuk pertanyaan.
Tujuan penelitian:Deskripsikan apa yang diharapkan dapat diperoleh dengan meneliti masalah ini.
Misalnya dipilih masalah sebagai berikut.
Isu : Siswa kurang aktif di kelas, cenderung tidak pernah mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tetapi hampir tidak ada siswa yang bertanya.
Masalah : Siswa perlu digalakkan untuk aktif dalam kelas, aktif secara utuh (sedapat mungkin ”hands on” atau ”minds on”, bahkan juga kalau mungkin ”hearts on”).
Fokus masalah: Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas?
Rumusan masalah PTK yang lengkap biasanya berupa suatu pertanyaan dalam bentuk ”Masalah apa yang terjadi di kelas, bagaimana upaya mengatasinya, apa tindakan yang dianggap tepat untuk itu, di kelas, dan sekolah mana hal itu terjadi?”
Contoh fokus masalah (rumusan masalah yang belum dilengkapi dengan tindakan dan lokasi penelitian): Bagaimana peningkatan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on” ?
Tujuan penelitian: Merupakan jawaban terhadap masalah penelitian
Contoh tujuan (yang belum dilengkapi dengan tindakan dan lokasi penelitian): Meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas, baik secara ”hands on”, ”minds on” maupun ”hearts on”..

Setelah ditetapkan fokus masalah seperti itu, dosen dan guru berdiskusi mengadakan gagas pendapat mengenai tindakan apa saja yang dapat dipilih untuk memecahkan masalah.
B. Bentuk dan Skenario Tindakan
Gagas pendapat mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat dipilih.
Dosen dan guru perlu membahas bentuk dan macam tindakan (atau tindakan-tindakan) apa yang kira-kira paling dikehendaki untuk dicoba dan dilaksanakan dalam kelas. Bentuk dan macam tindakan ini kemudian dimasukkan dalam judul usulan penelitian yang akan disusun bersama oleh dosen dan guru.
Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan (misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar sekolah, penggunaan sungai, dan seterusnya), atau dapat pula dalam bentuk suatu strategi pembelajaran (misalnya strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw atau STAD atau TGT atau GI, strategi pembelajaran berbasis masalah dan seterusnya). Contoh tindakan untuk rumusan masalah di atas: problem posing .
Bagaimana tindakan tersebut akan dilaksanakan dalam PTK perlu direncanakan dengan cermat. Perencanaan pelaksanaan tindakan ini dituangkan dalam bentuk Rencana Pembelajaran (RP) atau dalam bentuk Skenario Pembelajaran. Dalam makalah ini dilampirkan (Lampiran 2) contoh salah satu RP untuk pembelajaran dengan Problem Posing (Chotimah dkk., 2005).
C. Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan
Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) haruslah sejalan dengan prosedur dan langkah PTK. Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hal yang diamati.
1. Dari sisi proses
Dari sisi proses (bagan alirnya), instrumen dalam PTK harus dapat menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsung), dan output (hasil).
a. Instrumen untuk input
Instrumen untuk input dapat dikembangkan dari hal-hal yang menjadi akar masalah beserta pendukungnya. Misalnya: akar masalah adalah bekal awal/prestasi tertentu dari peserta didik yang dianggap kurang. Dalam hal ini tes bekal awal dapat menjadi instrumen yang tepat. Di samping itu, mungkin diperlukan pula instrumen pendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan, misalnya: format peta kelas dalam kondisi awal, buku teks dalam kondisi awal, dst.
b. Instrumen untuk proses
Instrumen yang digunakan pada saat proses berlangsung berkaitan erat dengan tindakan yang dipilih untuk dilakukan. Dalam tahap ini banyak format yang dapat digunakan. Akan tetapi, format yang digunakan hendaknya yang sesuai dengan tindakan yang dipilih.
c. Instrumen untuk output
Adapun instrumen untuk output berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian hasil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Misalnya: nilai 75 ditetapkan sebagai ambang batas peningkatan (pada saat dilaksanakan tes bekal awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai pada angka 75 perlu untuk dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

2. Dari sisi Hal yang Diamati
Selain dari sisi proses (bagan alir), instrumen dapat pula dipahami dari sisi hal yang diamati. Dari sisi hal yang diamati, instrumen dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengamati perilaku siswa (observing students) (Reed dan Bergermann,1992).

a. Pengamatan terhadap Guru (Observing Teachers)
Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal (anecdotal record).
Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu catatan anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu:
1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas,
2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas,
3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan
4) pengamatan harus dilakukan secara objektif.

Beberapa model catatan anekdotal yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events),
b) Catatan Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form),
c) Catatan Anekdotal Pola Pengelompokan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns),
d) Pengamatan Terstruktur (Structured Observation),
e) Lembar Pengamatan Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model),
f) Lembar Pengamatan Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions),
g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) ,
h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

b. Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)
Catatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Di samping itu, pengamatan itu dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.
Beberapa model catatan anekdotal kelas yang diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization),
b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map),
c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms),
d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment),
e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews),
f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.

c. Pengamatan terhadap Siswa (Observing Students).
Pengamatan terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:
a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) ,
b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students),
b) Format Bayangan (Shadowing Form),
c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Students),
d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive Profile Chart),
e) Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons),
f) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory),
g) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection),
h) Sosiogram, dsb

Adapun instrumen lain selain catatan anekdotal yang dapat digunakan dalam pengumpulan data PTK dapat berwujud:

(1) Pedoman Pengamatan.
Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini dapat dilaksanakan dengan pedoman pengamatan (format, daftar cek), catatan lapangan, jurnal harian, observasi aktivitas di kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alat perekam elektronik, atau pemetaan kelas (cf. Mills, 2004: 19). Pengamatan sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Catatan lapangaan sebagai salah satu wujud dari pengamatan dapat digunakan untuk mencatat data kualitatif, kasus istimewa, atau untuk melukiskan suatu proses .

(2) Pedoman Wawancara
Untuk memperoleh data dan atau informasi yang lebih rinci dan untuk melengkapi data hasil observasi, tim peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru, siswa, kepala sekolah dan fasilitator yang berkolaborasi. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan .
Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Wawancara hendaknya dapat dilakukan dalam situasi informal, wajar, dan peneliti berperan sebagai mitra. Wawancara hendaknya dilakukan dengan mempergunakan pedoman wawancara agar semua informasi dapat diperoleh secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, dapat pula dilakukan secara bebas. Guru yang berkolaborasi dapat berperan pula sebagai pewawancara terhadap siswanya. Namun harus dapat menjaga agar hasil wawancara memiliki objektivitas yang tinggi.

(3) Angket atau kuesioner
Indikator untuk angket atau kuesioner dikembangkan dari permasalahan yang ingin digali.

(4) Pedoman Pengkajian Data dokumen
Dokumen yang dikaji dapat berupa: daftar hadir, silabus, hasil karya peserta didik, hasil karya guru, arsip, lembar kerja dll.

(5) Tes dan Asesmen Alternatif
Pengambilan data yang berupa informasi mengenai pengetahuan, sikap, bakat dan lainnya dapat dilakukan dengan tes atau pengukuran bekal awal atau hasil belajar dengan berbagai prosedur asesmen (cf. Tim PGSM, 1999; Sumarno, 1997; Mills, 2004).

Dalam Lampiran 3—17 dicontohkan beberapa macam instrumen yang dapat digunakan oleh peneliti (Chotimah dkk. 2005; Tim Biologi SMA Lab. UM 2005)

Instrumen ini dikembangkan pada saat penyusunan usulan penelitian atau dikembangkan setelah usulan penelitian disetujui untuk didanai dan dilaksanakan. Keuntungannya bila instrumen dikembangkan pada saat penyusunan usulan adalah peneliti telah mempersiapkan diri lebih dini sehingga peneliti dapat lebih cepat mengimplementasikannya di lapangan.

Pengukuran keberhasilan tindakan sedapat mungkin telah ditetapkan caranya sejak awal penelitian, demikian pula kriteria keberhasilan tindakannya. Keberhasilan tindakan ini disebut sebagai indikator keberhasilan tindakan. Indikator keberhasilan tindakan biasanya ditetapkan berdasarkan suatu ukuran standar yang berlaku. Misalnya: pencapaian penguasaan kompetensi sebesar 75% ditetapkan sebagai ambang batas ketuntasan belajar (pada saat dilaksanakan tes awal, nilai peserta didik berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum sampai 75% diartikan masih perlu dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).

D. Prosedur Analisis dan Interpretasi Data Penelitian

Dalam PTK, perhatian lebih kepada kasus daripada sampel. Hal ini berimplikasi bahwa metodologi yang dipakai lebih dapat diterapkan terhadap pemahaman situasi problematik daripada atas dasar prediksi di dalam parameter.

1. Analisis Data Penelitian.
Tahap-tahap analisis data penelitian meliputi:
a. validasi hipotesis dengan menggunakan teknik yang sesuai (saturasi, triangulasi, atau jika memang perlu uji statistik);
b. interpretasi dengan acuan teori, menumbuhkan praktik, atau pendapat guru;
c. tindakan untuk perbaikan lebih lanjut yang juga dimonitor dengan teknik penelitian kelas.
Analisis dilakukan dengan menggunakan hasil pengumpulan informasi yang telah dilakukan dalam tahap pengumpulan data. Misalnya, dengan memutar kembali hasil rekaman proses pembelajaran dengan video tape recorder guru mengamati kegiatan mengajarnya dan membahas masalah-masalah yang menjadi perhatian penelitian bersama dengan dosen. Pada proses analisis dibahas apa yang diharapkan terjadi, apa yang kemudian terjadi, mengapa terjadi tidak seperti yang diharapkan, apa penyebabnya atau ternyata sudah terjadi seperti yang diharapkan, dan apakah perlu dilakukan tindaklanjut
2. Validasi hipotesis
Validasi hipotesis adalah diterima atau ditolaknya suatu hipotesis.
Jika di dalam desain penelitian tindakan kelas diajukan hipotesis tindakan yang merupakan keyakinan terhadap tindakan yang akan dilakukan, maka perlu dilakukan validasi. Validasi ini dimaksudkan untuk menguji atau memberikan bukti secara empirik apakah pernyataan keyakinan yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan itu benar. Validasi hipotesis tindakan dengan menggunakan tehnik yang sesuai yaitu: saturasi, triangulasi dan jika perlu dengan uji statistik tetapi bukan generalisasi atas hasil PTK. Saturasi, apakah tidak ditemukan lagi data tambahan. Triangulasi, mempertentangkan persepsi seseorang pelaku dalam situasi tertentu dengan aktor-aktor lain dalam situasi itu, jadi data atau informasi yang telah diperoleh divalidasi dengan melakukan cek, recek, dan cek silang dengan pihak terkait untuk memperoleh kesimpulan yang objektif.

3. Interpretasi Data Penelitian
Interpretasi berarti mengartikan hasil penelitian berdasarkan pemahaman yang dimiliki peneliti. Hal ini dilakukan dengan acuan teori, dibandingkan dengan pengalaman, praktik, atau penilaian dan pendapat guru. Hipotesis tindakan yang telah divalidasi dicocokkan dengan mengacu pada kriteria, norma, dan nilai yang telah diterima oleh guru dan siswa yang dikenai tindakan.

4. Penyusunan Laporan Penelitian
Di Bab Hasil dan Pembahasan Penelitian dalam Laporan PTK pada umumnya peneliti terlebih dulu menyajikan paparan data yang mendeskripsikan secara ringkas apa saja yang dilakukan peneliti sejak pengamatan awal (sebelum penelitian) yaitu kondisi awal guru dan siswa diikuti refleksi awal yang merupakan dasar perencanaan tindakan siklus I, dilanjutkan dengan paparan mengenai pelaksanaan tindakan, hasil observasi kegiatan guru, observasi situasi dan kondisi kelas dan hasil observasi kegiatan siswa. Paparan data itu kemudian diringkas dalam bentuk temuan penelitian yang berisi pokok-pokok hasil observasi dan evaluasi yang disarikan dari paparan data.
Berikutnya berdasarkan temuan data dilakukan refleksi hasil tindakan siklus 1 yang dijadikan dasar untuk merencanakan tindakan untuk siklus ke 2. Di sini dapat dibandingkan hasil siklus 1 dengan indikator keberhasilan tindakan siklus 1 yang telah ditetapkan berdasarkan refleksi awal.
Paparan data siklus dua juga lengkap mulai perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi. Ringkasan paparan data dicantumkan dalam bentuk temuan penelitian. Temuan ini menjadi dasar refleksi tindakan siklus ke 2, termasuk apakah perlu dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan untuk siklus ke 3. Peneliti dapat membandingkan hasil siklus 2 ini dengan indikator keberhasilan tindakan siklus 2 yang telah ditetapkan berdasarkan hasil refleksi tindakan siklus ke 1.
Jadi prosedur analisis dan interpretasi data penelitian dilaksanakan secara deskriptif kualitatif dengan meringkas data (reduksi data), saturasi dan triangulasi.
E. Penutup
PTK merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keprofesionalan guru maupun dosen. Dalam pelaksanaannya dosen dan guru perlu melakukan segala langkah penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal hingga akhir. Ciri khas penelitian ini ialah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan masalah ini. Penelitian tindakan sebenarnya dapat dilakukan oleh guru atau dosen sendiri-sendiri atau seperti dalam pelatihan ini, guru dan dosen dapat saling berkolaborasi. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Refleksi merupakan pemaknaan dari hasil tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan masalah. Disarankan guru dan dosen dapat secara kolaboratif melakukan tindakan kelas ini untuk peningkatan keprofesionalannya.
Proposal usulan penelitian tindakan kelas perlu dibuat sebagai pedoman (tuntunan) dalam melaksanakan penelitian. Dalam penyusunan usulan yang sesungguhnya guru peneliti harus berusaha memenuhi ketentuan, kriteria atau standar yang ditetapkan oleh sponsor atau lembaga pemberi dana. Saran lainnya ialah banyak membaca laporan penelitian, artikel dan sumber-sumber mengenai penelitian tindakan kelas.
Di hadapan para bapak ibu dosen yang hadir dalam pelatihan kali ini saya sampaikan harapan masa depan saya mengenai PTK ini yaitu agar makin banyak guru maupun dosen sains seluruh Indonesia yang melaksanakan PTK.
Keinginan lainnya adalah agar dalam pelaksanaan PTK itu dosen dan guru tidak hanya sekedar melaksanakan, tapi juga mengkomunikasikan hasilnya kepada rekan-rekan guru dan dosen lain melalui media komunikasi (majalah) yang sudah ada sekarang. Saya pikir kita juga sudah punya organisasi profesi sehingga pertemuan periodik antar guru dan dosen untuk pengembangan profesi dapat direncanakan dan dilaksanakan secara lebih terjadwal. Melalui pertemuan ilmiah dan majalah ilmiah itu antara para guru dan dosen bidang studi diharapkan dapat terjadi saling tukar informasi, pengalaman, dan pemikiran untuk peningkatan keprofesionalan guru dan dosen.
Akhir kata, saya ingatkan kembali bahwa profesi guru dan dosen adalah profesi yang memerlukan pengembangan terus-menerus, karenanya setiap guru dan dosen harus selalu siap, mau, dan mampu untuk membelajarkan dirinya sepanjang hayat agar dapat lebih mampu membelajarkan anak didiknya. PTK merupakan salah satu sarana belajar sepanjang hayat yang penting yang perlu dikuasai oleh setiap guru dan dosen yang mau mengembangkan keprofesionalannya.

Daftar Rujukan

Chotimah, Husnul, dkk. 2005. “Laporan Koordinator Bidang Studi Biologi Semester II Tahun Pelajaran 2004-2005”. Malang: Yayasan Pendidikan Universitas Negeri Malang: SMA Laboratorium UM.
Depdikbud. 1999. Bahan Pelatihan Penelitian Tindakan. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikdasmen, Dikmenum.
Mills, Geoffrey. 2003. Action Research: A Guide for the Teacher Researcher. New Jersey: Prentice Hall.
Reed, A. J. S. & Bergermann, V.E. 1992. A Guide to Observation and Participation: In the Classroom. Connecticut: The Dushkin Publishing Group, Inc.
Stringer, Ernie. 2004. Action Research in Education. Columbus: Pearson, Menvi Prentice Hall.
Tim Biologi SMA Lab UM. 2005. “Jurnal Belajar Biologi Kelas X”. Malang: Yayasan Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Tim PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah. Jakarta: Proyek PGSM, Dikti.

Images: Omen

Source:

1. http://pakguruonline.pendidikan.net/penelitian_tindakan_kelas.html

2. IMPLEMENTASI PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono

http://www.ekofeum.or.id/artikel.php?cid=26




Selengkapnya...

Sikap Guru terhadap Teknologi Pembelajaran Hubungannya dengan Pemanfaatan Media dalam Proses Pembelajaran di SD

Abstract: Study represented a set of event influencing conducive students as a learning centre process which is learned by student. The effort by teacher needs in better the core important exploiting of study media as one of the technological concept of study. Applying of technological concept of study to increase study effectiveness and efficiency. Constructive student media expected to use as many as possible its appliance [of] him to perceive, hearing, feeling, diffusing, involving, and in the end of having a number of knowledge, attitude, and skill as a learning result. Operationally learning directs in concerned of activities of study in school so that a qualified teacher has a positive attitude to study technology specially in exploiting of media in the course of study. Research sampled a number of 38 class teachers have been taken with technique of porpusive sampling. The data was analysed by using descriptive analysis and inferensial. Result of research showed (1) most teachers of SD have the positive attitude toward the learning technology, (2) there is a significant relationship between the learning attitude of studying technology and exploiting of media in study. Learning attitude toward technology study gave the positive influence which is significant toward the exploiting of media in the process of study in elementary school.


Kata Kunci: Sikap, Teknologi Pembelajaran, Media, Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang kompleks karena kegiatan pembelajaran menyangkut proses penciptaan lingkungan, baik yang dilakukan guru maupun siswa agar terjadi proses belajar. Penciptaan lingkungan dalam belajar meliputi penataan nilai-nilai dan kepercayaan yang akan diupayakan tercapai. Upaya guru dalam menciptakan lingkungan agar terjadi proses belajar. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pengajaran adalah penciptaan lingkungan agar mempengaruhi





Nurhinda Bakkidu adalah dosen Universitas Negeri Makassar

siswa untuk aktif belajar, jadi penekanan di sini adalah aktivitas siswa untuk belajar.

Upaya pengajaran (dalam penelitian ini dipakai istilah pembelajaran) merupakan upaya membelajarkan siswa, menurut Degeng (1993) ungkapan pembelajaran lebih tepat menggambarkan upaya untuk membangkitkan prakarsa belajar siswa, di samping itu ungkapan pembelajaran memiliki makna yang lebih dalam untuk mengungkap hakekat perencanaan (disain) upaya membelajarkan siswa.

Walaupun inti dari pembelajaran adalah siswa belajar, namun guru memegang peranan sentral dalam upaya pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu guru perlu mencari terobosan baru yang bersifat inovatif sebagai upaya pembaharuan mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di mana syarat-syarat kehidupan modern dalam pendidikan adalah sifat efektif dan efisien. Semua itu ditentukan oleh sifat kreativitas seorang guru dalam melaksanakan tugasnya, terutama pada proses pembelajaran di kelas, seperti pemanfaatan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, teknologi modern, teknologi pendidikan pada umumnya dan teknologi pengajaran pada khususnya, serta pemanfaatan/penggunaan berbagai macam sumber belajar dan media sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.

Salah satu upaya yang paling praktis dan realitas dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar para siswa sebagai indikator kualitas pendidikan adalah perbaikan dan penyempurnaan sistem pembelajaran. Upaya tesebut diarahkan kepada kualitas pembelajaran sebagai suatu proses yang diharapkan dapat menghasilkan kualitas hasil belajar yang optimal. Teknologi pembelajaran merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebagai bagian dari teknologi pendidikan, maka teknologi pembelajaran juga mempunyai pandangan bahwa pendidikan dan pembelajaran itu merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang harus diatur agar mempunyai fungsi yang optimal dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran. Teknologi pembelajaran dapat membawa guru atau pendidik dan para tenaga pendidikan lainnya dalam melaksanakan tugasnya dengan cara-cara atau teknik yang efektif dan efisien dengan memanfaatkan media atau alat bantu mengajar dengan secara cepat.

Hal ini sejalan dengan penegasan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN, 1988:108) melalui Ketetapam MPR RI Nomor II/MPR/1988, yaitu:


Sarana dan prasaran pendidikan seperti gedung sekolah termasuk ruang perpustakaan, keterampilan, latihan praktek dan laboratorium beserta peralatannya dan media pendidikan serta fasilitas lainnya perlu terus disempurnakan, ditingkatkan dan lebih didayagunakan.


Keberadaan sumber belajar dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran mempunyai peranan penting. Pemanfaatan sumber belajar, khususnya pemanfaatan media dalam proses pembelajaran mempengaruhi pencapaian tujuan instruksional, prestasi belajar siswa, sekaligus berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Rendahnya prestasi belajar siswa disebabkan oleh berbagai faktor, terutama belum dioptimalisasikannya komponen-komponen yang terlibat dalam pendidikan/pembelajaran. Salah satu di antaranya ialah pemilihan dan pemnfaatan media pendidikan secara tepat. Namun demikian perlu disadari bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan/pembelajaran tidak terlepas dari kerja sama keseluruhan komponen sistem pendidikan/pembelajaran.

Rendahnya kualitas pendidikan antara lain ditandai dengan rendahnya prestasi belajar yang telah dicapai oleh siswa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa, antara lain kurangnya motivasi belajar, kurangnya minat belajar, kurangnya respon siswa terhadap materi pelajaran, teknik penyampaian materi yang kurang menarik, serta kurang berkualitasnya guru dalam mengajarkan materi tersebut.

Dalam konteks pendidikan formal, kegiatan utama guru adalah melakukan kegiatan proses pembelajaran. Oleh karena itu proses pembelajaran harus mendapat perhatian utama dalam kegiatan pendidikan. Apabila proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, maka pencapaian hasil belajar akan baik pula, yang pada akhirnya kualitas pendidikan pun dapat meningkat. Hal ini dapat tercipta jika pendidikan itu mendapat penanganan secara seksama dari pihak-pihak yang terkait di dalamnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Soetinah Soewondo (1987:2) bahwa:

Rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh pemrosesan pendidikan yang kurang mendapat penanganan secara seksama. Mutu pendidikan itu hanya mungkin meningkat jika pemrosesan (proses pembelajaran) juga mendapat pembenahan yang seksama.


Kemudian Umar Tirtaraharja(1994:45) mengatakan pula bahwa:


Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan.


Lebih lanjut Soetinah Soewondo (1987) mengatakan,…….”bahwa dalam rangka menghadapi masalah yang kompleks dalam bidang pendidikan salah satu jawabannya adalah melaksanakan inovasi teknologi instruksional”.

Pernyataan yang serupa pula dikemukakan oleh Lily Rompas (1987:16) yaitu:

Penggunaan-penggunaan konsep teknologi pendidikan yang komprehensif, aspek alat dan metode yang berinteraksi dengan aspek software atau perangkat lunak serta perangkat keras atau hardware untuk memecahkan masalah makro dan mikro adalah sangat ideal.


Selanjutnya Widodo (1989:11) menyatakan bahwa:


Penerapan teknologi pendidikan adalah untuk memperoleh nilai tambah bagi kegiatan pendidikan dengan tercapainya salah satu sasaran antara lain: (1) mengajar lebih efektif; (2) pelajar lebih mudah menyerap pelajaran; (3) waktu lebih pendek; (4) populasi sasaran lebih besar; (5) mutu hasil didik lebih dipertanggung jawabkan; (6) mutu hasil didik lebih baik, tujuan pendidikan dapat ditingkatkan.


Dari uraian tersebut di atas memberikan gambaran bahwa permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini hanya mungkin diatasi jika konsep teknologi pendidikan, khususnya teknologi pembelajaran diterapkan dalam proses penyelenggaraan pendidikan.

Salah satu bentuk konsep teknologi pembelajaran adalah pemanfaatan atau penggunaan media sebagai sumber belajar dan alat bantu dalam proses pembelajaran. Karena dalam proses pembelajaran aktivitas anak perlu dirangsang, maka perlu disediakan media pembelajaran untuk membantu siswa dalam memahami hal-hal yang bersifat abstrak, membangkitkan perhatian siswa dan minat belajar siswa, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pemanfaatan media pengajaran pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengajaran. Dengan bantuan media, siswa diharapkan menggunakan sebanyak mungkin alat inderanya untuk mengamati, mendengar, merasakan, meresapi, menghayati dan pada akhirnya memiliki sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai hasil belajar.

Belajar dengan menggunakan indera pandang dan dengar tentu berbeda hasilnya dibanding jika siswa hanya belajar dengan menggunakan indera pandang atau indera dengar saja. Sehingga semakin bervariasi penggunaan media sebagai alat bantu mengajar, akan semakin besar kemungkinannya pembelajaran itu berhasil mencapai tujuan. Jadi pemanfaatan media secara tepat akan berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran, yang pada akhirnya ikut mempengaruhi hasil belajar siswa.

Oleh karena itu, sebagai upaya pembaharuan proses pembelajaran di sekolah, maka seorang guru dipersyaratkan mempunyai pandangan atau pendapat yang positif terhadap bagaimana menciptakan situasi dan kondisi belajar yang diharapkan. Karena secara operasionalnya gurulah yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di sekolah. Tugas guru memang sangatlah kompleks, sehingga mereka dituntut untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan. Guru harus memiliki kemampuan profesional dalam tugasnya dengan menerapkan konsep teknologi pembelajaran dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan/pembelajaran. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah itu berupa komponen sistem instruksional yang telah disusun dalam fungsi desain dan seleksi, dan dalam pemanfaatan dikombinasikan sehingga menjadi sistem instruksional yang lengkap. Komponen-komponen tersebut meliputi: pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar atau lingkungan. Namun dari sejumlah komponen tersebut, yang akan menjadi obyek penelitian adalah sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dan pemanfaatan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran. Karena seorang guru tentunya mempunyai pandangan tersendiri berdasarkan tanggapan, perasaan, penilaian terhadap teknologi pembelajaran, serta pemanfaatan media atau pemanfaatan media dalam proses pembelajaran.

Jika guru mempunyai sikap positif terhadap teknologi pembelajaran, maka akan memberikan nilai tambah bagi guru dalam hal mendesain program pembelajaran secara lebih sempurna, memanfaatkan, sumber belajar, mendayagunakan media pembelajaran secara optimal, mengelola kegiatan pembelajaran dan sebagainya yang pada akhirnya akan membantu mengatasi masalah pendidikan khususnya proses dan hasil pembelajaran siswa.

Bertolak dari pemikiran di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah; (1) bagaimanakah sikap guru-guru terhadap teknologi pembelajaran?; dan (2) apakah ada hubungan yang signifikan antara sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dengan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran?.

Ruang Lingkup Teknologi Pembelajaran
Sebelum dikemukakan lebih jauh mengenai ruang lingkup atau kawasan teknologi pembelajaran, maka terlebih dahulu dikemukakan ciri-ciri utama dari teknologi pembelajaran. Adapun ciri-ciri teknologi pembelajaran adalah: (1) dikembangkan dan dilaksanakan secara sistematis; (2) memanfaatkan dan mendayagunakan komponen-komponen sistem instruksional secara efektif dan efisien; (3) mementingkan siswa sebagai subjek didik.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, maka teknologi pembelajaran dalam keseluruhan kegiatannya bertujuan untuk: (1) meningkatkan fungsi dan peran komponen-komponen sistem instruksional seperti guru, pesan, bahan, peralatan, teknik, lingkungan dan sebagainya untuk memecahkan masalah-masalah kependidikan; (2) meningkatkan fungsi pengembangan instruksional seperti riset teori, desain, produksi, logistik dan sebagainya untuk menganalisis masalah, merancang, melaksanakan dan menilai upaya pemecahan masalah-masalah kependidikan; (3) meningkatkan fungsi manejemen instruksional, baik manajemen personil maupun manajemen organisasinya untuk mengkoordinasikan salah satu atau beberapa fungsi yang telah disebutkan di atas.

Jika dikaji lebih mendalam mengenai ciri-ciri dan tujuan teknologi pembelajaran di atas, jelaslah bahwa kehadiran teknologi pembelajaran dalam dunia pendidikan adalah karena adanya dorongan-dorongan tertentu. Adapun hal-hal yang mendorong dikembangkannya teknologi pembelajaran adalah sebagai berikut: (a) adanya siswa atau peserta didik yang memerlukan bantuan dalam belajar sesuai dengan kemampuannya, kebutuhannya, kondisinya dan tujuannya; (b) sumber-sumber tradisonal sudah tidak mencukupi lagi kebutuhan pendidikan, oleh karena itu, perlu dikembangkan dan dimanfaatkannya sumber-sumber belajar baru; (c) adanya komponen-komponen sistem instruksional berupa pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan yang perlu didayagunakan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektitif dan efisien; (d) adanya kegiatan sebagai suatu sistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar sebagai komponen sistem instruksional yang bertolak dari suatu teori tertentu dan hasil penelitian, kemudian dirancang, diproduksi, disajikan, digunakan, dinilai untuk disempurnakan, kemudian disebarkan; (e) adanya kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar sebagai komponen sistem instruksional, serta lembaga atau instansi yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut sehingga perlu dikelola dengan baik agar kegiatan tersebut lebih berdaya guna.

Kelima latar belakang tersebut, secara konseptual merupakan gejala bidang garapan teknologi pembelajaran, sekaligus latar belakang diterapkannya konsep teknologi pembelajaran. Berikut ini akan dikemukakan secara singkat gerakan yang mendasari terwujudnya bidang dan konsep teknologi pembelajaran seperti yang ada sekarang. Pertama adalah lahirnya konsep alat bantu visual (visual aid) dalam pembelajaran. Kedua adalah penggunaan alat bantu visual dalam pembelajaran berkembang dalam audio visual aid. Kemudian yang ketiga adalah dengan dimasukkannya prinsip-prinsip komunikasi dalam pembelajaran, dengan demikian maka tekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan pelajaran dalam bentuk audio visual, tetapi dipusatkan kepada keseluruhan proses komunikasi informasi/pesan (massage) dari sumber (source), yaitu guru, kepada penerima (receiver), yaitu siswa. Keempat adalah masuknya ilmu pengetahuan prilaku kepada teknologi pembelajaran. Kelima adalah perkembangan konsep teknologi pembelajaran dari komunikasi audio visual menuju ke pendekatan sistem dalam pembelajaran, dan akhirnya lahirlah konsep teknologi pembelajaran seperti yang ada sekarang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi pembelajaran pada pokoknya mempunyai lima jenis kegiatan yaitu: (1) menganalisis masalah dan merumuskan masalah; (2) merancang pemecahan masalah; (3) mengembangkan pemecahan masalah; (4) uji coba, penilaian dan revisi pemecahan masalah, dan (5) penerapan dan pengendalian pemecahan masalah.

Kelima jenis kegiatan tersebut apabila dilaksanakan secara maksimal, maka penerapan teknologi pembelajaran akan tampak dengan adanya ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri itu sekaligus menjadi ruang lingkup garapan teknologi pembelajaran itu sendiri, sehingga dapat dijadikan acuan untuk mengukur sampai sejauh mana teknologi pembelajaran itu diterapkan. Adapun ciri-ciri yang tampak sebagai manifestasi dari penerapan teknologi pembelajaran adalah sebagai berikut: (a) adanya sumber-sumber baru berupa orang, pesan, bahan, peralatan, teknik, dan lingkungan, serta dimanfaatkan sumber-sumber tersebut sehingga memungkinkan siswa belajar secara terarah dan terkendali; (b) dilaksanakannya fungsi pengembangan instruksional meliputi penelitian, perencanaan, produksi, seleksi, logistik, penyebaran, penilaian dalam proses pengadaan dan pemanfaatan sumber belajar; (c) dilaksanakannya fungsi pengelolaan atas organisasi dan personil yang melaksanakan salah satu fungsi atau beberapa fungsi yang telah dikemukakan di atas; (d) adanya spesifikasi untuk memproduksi komponen sistem instruksional; (e) tersedianya produk-produk spesifik dalam bentuk prototipe atau yang sedang diuji coba untuk produksi massal; (f) dilaksanakannya evaluasi untuk desain, yaitu untuk menilai keefektifan sumber belajar/komponen sistem instruksional guna mencapai tujuan; (g) dilaksanakannya evaluasi untuk produksi,yaitu untuk menilai diterima tidaknya hasil-hasil (komponen sistem instruksional) yang sudah dibuat berdasarkan standar produksi; (h) dilaksanakannya evaluasi untuk evaluasi, yaitu menciptakan model-model evaluasi; (i) dilaksanakannya evaluasi untuk selesai, yaitu menilai diterima tidaknya hasil yang sudah dicapai untuk tujuan tertentu; (j) dilaksanakannya evaluasi guna pemanfaatan, yaitu menilai diterima tidaknya hasil yang dicapai untuk memenuhi tujuan belajar dalam penggunaan sebenarnya; (k) tersedianya komponen sistem instruksional yang tersusun, tersimpan, terklasifikasi, terkatalogkan, tersusun jadwalnya, terdistribusi, teroperasikan, terpelihara, dan diperbaiki; (l) adanya kegiatan membawa siswa berhubungan dengan komponen sistem instruksional untuk memberi kemudahan siswa dalam belajar; (m) adanya penyebaran informasi tentang teknologi pembelajaran.

Dari ciri yang merupakan realisasi diterapkannya teknologi pembelajaran tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ruang lingkup teknologi pembelajaran itu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu ruang lingkup makro, ruang lingkup meso, dan ruang lingkup mikro. Ruang lingkup makro teknologi pembelajaran meliputi produk-produk normatif atau kebijaksanaan nasional mengenai pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran. Dalam hal ini nilai teknologi pembelajaran tergantung kepada kebijaksanaan nasional tentang pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran. Kebijaksanaan sistem pembelajaran, kurikulum ketenagaan pendidikan dan seterusnya.

Sedangkan ruang lingkup meso menyangkut ketentuan-ketentuan yang menyangkut kebijakan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan dan pembelajaran dalam ruang lingkup propinsi /daerah. Di sini nilai teknologi pembelajaran tergantung pada kualitas kepemimpinan dan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran pada tingkat propinsi dan daerah. Kemudian ruang lingkup mikro teknologi pembelajaran adalah terbatas ruang lingkup lembaga atau sekolah, yaitu pada pelaksanaan proses pembelajaran dengan memanfaatkan jasa teknologi pembelajaran. Di sinilah kunci nilai tambah teknologi pembelajaran tergantung dari ujung tombak pelaksana pendidikan dan pembelajaran yaitu guru dan tenaga kependidikan lainnya.


Sikap Guru terhadap Teknologi Pembelajaran

Banyak ahli mendefinisikan sikap bahwa “attitudes are predispositions” karena sikap dipandang sebagai suatu variabel yang laten dan mendasar, yang dianggap memberi bimbingan dan pengaruh kepada tingkah laku. Seperti halnya dengan Thurstone dkk (Saparinah Sadil, 1982) mengemukakan bahwa:


Sikap sebagai suatu tingkatan afek, baik itu bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologik. Afek positif yaitu afek senang. Dengan demikian adanya sikap menerima atau setuju, sedangkan afek negatif adalah sebaliknya yaitu adanya sikap menolak atau tidak senang.


Sikap adalah, Suatu predisposisi atau kecenderungan untuk melakukan suatu respon dengan cara-cara tertentu terhadap dunia sekitarnya baik berupa individu-individu maupun objek-objek tertentu.

Krech Crutchfield dan Ballachy (1962) memberikan definisi sikap sebagai berikut “Attitude is an enduring system of positive or negative evaluations, emotional feeling. And pro or con action tendencies with respect to social objects”.

Dari definisi tersebut di atas nampak adanya persamaan-persamaan dan tidak bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya bahkan saling menjelaskan dan melengkapi.

Berdasarkan pendapat Krech Crutchfield dan Ballachy (1962) bahwa sikap sebagai suatu sistem yang bersifat relatif terdiri dari tiga komponen, yakni pengertian dan pemahaman (cognition) perasaan (feelings) dan kecenderungan bertindak (action tendencies). Setiap komponen mempunyai fungsi tertentu tetapi tetap merupakan satu sistem yang keluar sebagai satu kesatuan (sikap). Komponen kognisi berhubungan erat dengan pertimbangan rasional dan atau tanggapan-tanggapan logis terhadap sasaran atau objek sikap (setuju atau tidak setuju). Komponen afeksi berhubungan dengan perasaan emosional (senang atau tidak senang) terhadap sasaran, dan komponen konasi berhubungan erat dengan bagaimana kecenderungannya bertindak terhadap sasaran. Ketiga komponen inilah yang akan membentuk sikap seseorang yang akan berbeda sikap orang yang satu dan lainnya. Perbedaan sikap seseorang terhadap objek yang sama disebabkan adanya perbedaan-perbedaan dalam persepsi/tanggapan motivasi, keinginan, dan kebutuhan serta tujuan yang ingin dicapai seseorang.

Pembelajaran adalah penciptaan lingkungan agar mempengaruhi siswa untuk aktif belajar ( Gagne dan Briggs 1979) Inti pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa Degeng: dan Miarso, 1993:2) . Dalam hal ini guru memegang peranan sentral dalam upaya pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu guru perlu mencari terobosan baru yang bersifat inovatif sebagai upaya pembaharuan dan peningkatan kualitas pelaksanaan pembelajaran. Salah satu upaya yang paling praktis dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa adalah penerapan teknologi dalam proses pembelajaran. Lily Rompas (1987:16) mengemukakan bahwa:

Penggunaan-penggunaan konsep teknologi pendidikan yang komprehensif, aspek alat dan metode yang berinteraksi dengan aspek software atau perangkat lunak serta perangkat keras atau hardware untuk memecahkan masalah makro dan mikro adalah sangat ideal. Salah satu bentuk konsep teknologi pembelajaran adalah pemanfaatan media sebagai sumber belajar dan alat bantu dalam proses pembelajaran.

Pemanfaatan media pembelajaran pada hakekatnya bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Dengan bantuan media siswa diharapkan menggunakan sebanyak mungkin alat inderanya untuk mengamati, mendengar, merasakan, meresapi, menghayati, dan pada akhirnya memiliki sejumlah pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai hasil belajar. Secara operasional gurulah yang terlibat langsung dalam pelakasaan pembelajaran di sekolah sehingga seorang guru dipersyaratkan mempunyai sikap positif terhadap teknologi pembelajaran khususnya dalam pemanfaatan media dalam proses pembelajaran. Namun di lapangan pandangan, persepsi sikap, tanggapan, perasaan serta penilaian guru terhadap teknologi pembelajaran, serta pemanfaatan media dalam proses pembelajaran masih beragam.

Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa (Miarso, 1986). Menurut Gerlak (Achsin 1986) bahwa media pendidikan dikalsifikasi dalam lima kategori yaitu: (1) benda asli dan manusia; (2) gambar-gambar; (3) benda-benda yang didengar; (4) benda-benda cetakan; dan (5) benda-benda yang dipamerkan.

Fungsi media menurut Sadiman (1990:16): (1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik; (2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera; (3) mengatasi sikap pasif siswa; (4) memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik suatu pengertian bahwa dengan memanfaatkan media pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas dan efesiensi pelaksanaan pembelajaran di mana pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ada hubungan yang signifikan antara sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dengan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran pada di SD”.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bagaimana sikap guru terhadap teknologi pembelajaran di SD; (2) untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dengan pemamfaatan media dalam proses pembelajaran di SD.

METODE
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yakni variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah sikap guru terhadap teknologi pembelajaran (X) dan variabel terikat adalah pemanfaatan media dalam proses pembelajaran (Y)

Populasi penelitian adalah semua guru SD Negeri Bawakaraeng Kota Makassar berjumlah 44 orang. Sampel berjumlah 38 orang yang diperoleh dengan teknik proposive sampling dalam artian bahwa yang dijadikan sebagai sampel adalah semua guru kelas.

Instrumen penelitian yang digunakan adalah: (1) angket untuk memperoleh data tentang sikap guru terhadap teknologi pembelajaran. (2) observasi digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan guru memanfaatkan media pembelajaran. Data yang sudah terkumpul akan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif untuk menggambarkan sikap guru terhadap teknologi pembelajaran sedangkan dalam menguji hipotesis akan digunakan teknik korelasi Product Moment.





KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sebagian besar (87,26%) guru-guru mempunyai sikap positif terhadap teknologi pembelajaran; (2) ada hubungan yang signifikan antara sikap guru terhadap teknologi pembelajaran dengan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain sikap guru terhadap teknologi pembelajaran memberi pengaruh positif yang signifikan terhadap pemanfaatan media dalam peoses pembelajaran di SD.


Saran

Dengan ditemukannya faktor sikap guru memberikan sumbangan positif sebesar 91,20% terhadap pemanfaatan media dalam proses pembelajaran di SD, maka disarankan agar variabel ini dapat menjadi perhatian utama dalam hal pemanfaatan media dalam pembelajaran. Jika ingin meningkatkan atau mengefektifkan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Disarankan pula bahwa sekolah dapat menyediakan media pembelajaran sesuai yang dibutuhkan dalam pembelajaran, demikian pula kesediaan guru-guru untuk membuat media rancang sederhana sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.


DAFTAR RUJUKAN

Achsin, Amir. 1986. Media Pendidikan Dalam Proses Belajar Mengajar. Ujung pandang: IKIP Ujung Pandang.

Degeng I Nyoman Sudana, Miarso, Y, 1993. Disain Pembelajaran: Teori ke Terapan. Malang: FPS IKIP Malang.

Krech dan Crutchfield . 1962. Individual in Society. New York: MacCraw-Hill Book Company Inc.

Miarso Yusufhadi. 1986. Teknologi Komunikasi Pendidikan .Jakarta:: Rajawali Pers.

Rompas, Lily. 1987. Revolusi konseptual Teknologi pendidikan. Ujung Pandang: FIP IKIP Ujung Pandang.


Sadiman, Arief S dkk. 1990. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.6. Jakarta: Pustekom Dikbud dan C.V. Rajawali.

Saparinah. 1982. Psikologi Sosial. Jakarta: Dikti Depdikbud.

Soewondo, Soetinah. 1987. Psikologi Pendidikan dan Teknologi Instruksional. Ujung Pandang: FIP IKIP.

Widodo. 1989. Produk Teknologi Maju Sebagai Media Pembelajaran. Jakarta.

Tirtaraharja, Umar. 1994. Pendayagunaan Media Pengajaran Dalam Meningkatkan Kualitas Pengajaran. Malang: Makalah Seminar IPTPI.




Selengkapnya...